Difference between revisions of "Laporan Pandangan Mata Pabrik WiMAX di Indonesia"

From OnnoWiki
Jump to navigation Jump to search
 
Line 1: Line 1:
Date: Fri, 30 Oct 2009 08:45:49 +0700
+
Date: Fri, 30 Oct 2009 08:45:49 +0700
 
  From: Wahyu Haryadi <wahyu@bwa.web.id>
 
  From: Wahyu Haryadi <wahyu@bwa.web.id>
 
  To: mastel-anggota@yahoogroups.com
 
  To: mastel-anggota@yahoogroups.com
Line 52: Line 52:
 
* [[Konfigurasi Base Station | Konfigurasi Base Station WiMAX]]
 
* [[Konfigurasi Base Station | Konfigurasi Base Station WiMAX]]
 
* [[Manajemen Jaringan WiMAX]]
 
* [[Manajemen Jaringan WiMAX]]
 +
 +
[[Category: Wireless]]
 +
[[Category: WiMAX]]

Latest revision as of 09:33, 11 May 2010

Date: Fri, 30 Oct 2009 08:45:49 +0700

From: Wahyu Haryadi <wahyu@bwa.web.id>
To: mastel-anggota@yahoogroups.com
Subject: [mastel-anggota] Laporan Kunjungan ke "Pabrik WiMAX" TRG di Batam


Atas undangan PT Teknologi Riset Global (TRG), saya mewakili MASTEL berkesempatan melihat proses pabrikasi (dibaca perakitan) perangkat "WiMAX" yang dilakukan oleh TRG di Batam. Dalam kunjungan pabrik ini, hadir Direktur Standardisasi Azhar Hasyim dan jajaran staff Ditjen Postel, para operator BWA diantaranya TELKOM, Lintasarta, IM2, Berca dan Firstmedia, perwakilan Ristek & BPPT dan beberapa rekan media diantaranya Detik, Koran Jakarta, Antara, Selular, Bisnis Indonesia dan Investor Daily.

Secara umum proses pabrikasi yang dilakukan di Batam adalah meliputi contract manufacturing (CM), perakitan barang jadi dan tes fungsi kerja. Proses perakitan perangkat "WiMAX" dilakukan di fasilitas milik PT SIIX Electronic Indonesia di Batamindo Industrial Park, Muka Kuning, Batam.

Proses perakitan dilakukan di Batam dengan pertimbangan bahwa di Batam terdapat fasilitas industri yang sangat menunjang untuk perakitan dan serta kemudahan proses import karena dari 400 komponen untuk perangkat sebagian besar masih harus diimport. Dari penjelasan staff TRG, saat ini ternyata hanya sedikit komponen saja yang bisa dibeli dari perusahaan dalam negeri. Kondisinya memang sangat ekstrim karena hanya sekitar 1 persen saja komponen yang bisa didapat di Indonesia.

Untuk proses perakitan ini, TRG dibantu oleh Tranzeo Wireless sebagai Technology Partner untuk pengembangan Subscriber Station (SS) sedangkan untuk Base Station (BS) dibantu oleh Aperto. Dari kunjungan di SIIX, proses perakitan untuk perangkat SS dilakukan mulai dari PCB sedangkan untuk perangkat BS hanya perakitan akhir saja. SIIX mengalokasikan assembly line khusus untuk merakit perangkat SS milik TRG.

Yang menarik, SIIX walau berstatus PMA memperkerjakan banyak tenaga lokal Indonesia, hanya beberapa manajemen inti saja yang masih ditempati oleh WNA.

Selain berkunjung ke SIIX, dilakukan juga kunjungan ke PT SANWA Engineering Batam yang memproduksi part casing dari perangkat SS WiMAX. SANWA yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia yang saat ini berdomisili di Singapura mampu melakukan pekerjaan plastics moulding injection tingkat presisi yang tinggi.

Dari paparan yang disampaikan oleh staff TRG, kapasitas produksi setiap bulannya saat ini adalah 80 unit Base Station sedangkan untuk Subscriber Station sebanyak 4000 unit. Kapasitas ini akan ditingkatkan seiring dengan rencana ekspansi membangun pabrik sendiri di Kawasan Industri Cikarang tahun depan.

Upaya yang dilakukan TRG dalam membangun industri lokal ini patut diapresiasi walau aktivitas yang dilakukan saat ini hanya berupa perakitan. Dengan pola perakitan dan kerjasama dengan vendor global sebagai technology partner yang dilakukan saat ini seharusnya TRG juga mampu untuk mengembangkan perangkat WiMAX berbasis 802.16e dan tidak hanya memproduksi perangkat 802.16d yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pasar.

Dari diskusi dengan rekan-rekan operator BWA yang mengikuti kunjungan pabrik ini terkait dengan perangkat yang dihasilkan khususnya untuk subscriber station yang hanya satu jenis saja yaitu jenis outdoor dianggap tidak sesuai dengan bisnis model para operator BWA khususnya untuk daerah urban. Para operator BWA lebih menyukai subscriber station jenis indoor karena kemudahan instalasi dan juga untuk menghemat biaya dan waktu instalasi. Sebagaimana kita ketahui bersama, untuk jenis outdoor diperlukan pemasangan perangkat diluar rumah dan proses pengkabelan layaknya pemasangan antenna parabola.

Hal lain yang dikhawatirkan oleh operator BWA adalah layanan broadband internet ini tidak dapat bersaing dengan layanan sejenis dari operator 3G karena faktor instalasi yang rumit ini. Kita tahu saat ini operator seluler khususnya 3G telah meluncurkan layanan broadband internet dengan perangkat yang jauh lebih simple dan portable berupa USB dongle. Semoga Pemerintah dapat meninjau ulang peraturan terkait layanan BWA dan segera mengijinkan implementasi standar WiMAX yang lebih baik yaitu 802.16e untuk menghindari kerugian dipihak operator dan terlebih kerugian di masyarakat untuk mendapat layanan yang terbaik.



Pranala Menarik